Sistem Cara Pembayaran Kontraktor Atau Pemborong Bangunan

Cara Pembayaran Kontraktor Rumah

Lazimnya ada dua sistem pembayaran, yaitu sistem termin (bertahap) atau yang satunya lagi adalah sistem cost and fee (Tusi).




Pembayaran Kontraktor Sistem Termin

Sistem ini biasanya dipakai untuk pekerjaan yang bersifat borongan, baik itu borong keseluruhan ataupun borong jasa. Berapa kali dan berapa banyak pembagian untuk setiap terminnya disesuaikan dengan besarnya nilai pekerjaan dan juga kesepakatan dari negosiasi antara pemilik dan kontraktor atau pemborongnya.

Rata-rata dibagi menjadi empat sampai lima tahapan, misalnya uang muka (DP) 30% lalu sisanya mungkin menjadi 25% 25% dan 20%. Atau ada juga 30% 25% 25% 15% dan 5% dll tergantung kesepakatannya seperti apa.

Tapi tahapan diatas bukan keharusan, yang paling penting adalah nilai proyeknya sendiri, semakin besar maka termin biasanya semakin dikecilkan sedangkan semakin kecil nilai proyek maka termin semakin dibesarkan.

Kenapa? Untuk proyek yang bernilai kecil lalu menggunakan termin yang kecil pula maka nilai rupiah yang didapat beresiko tidak mencukupi untuk operasional proyek. Misalkan sebagai berikut, proyek dengan nilai 50 juta dan DP 30% maka didapat 15 juta. Dana sebesar itu mungkin hanya cukup buat membayar upah tukang saja, sisanya tidak cukup untuk membeli pasir, semen, besi beton dll. 

Untuk menghindari hal ini maka perlu diatur DP dan termin pembayaran yang aman untuk kebutuhan pekerjaan proyek. Bisa saja menjadi 40% dan sisanya mungkin menjadi 30% 25% dan 5% atau variasi lainnya agar proyek bisa berjalan.

Sebaliknya bila nilai proyeknya besar sekali, misal, 100 M. Kalau DP nya 50% yaitu senilai 500 juta maka ini tidak baik juga, dana tersebut bisa menjadi berlebih dan ada resiko pada pihak pemilik bangunan, uangnya terlalu banyak diluar tanpa kendali.

Maka dari itu perlu diatur sistem termin yang baik, yang sesuai dengan kebutuhan dan disepakati bersama antara pemilik dan kontraktor. Pemilik merasa aman dan kontraktor bisa tenang bekerja.


Pembayaran Kontraktor Sistem Cost And Fee

Pada sistem ini kontraktor bertindak sebagai pengelola proyek dan untuk jasanya dibayarkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai proyek yang terjadi.

Para klien dari arsitek papan atas Indonesia biasanya menggunakan sistem ini dalam pelaksanannya dikarenakan pertimbangan kualitas yang harus dicapai.

Sistem pemberian dananya bisa berupa termin (seperti borongan diatas) atau secara rutin bulanan, mana saja yang dirasa nyaman oleh kedua belah pihak.

Bila secara rutin bulanan contohnya anggap sajalah sebesar 100 juta. Lalu belanja proyek untuk material dan upah dll habis 80 juta, maka kontraktor berhak atas sejumlah 8 juta. Sehinga dana terpakai totalnya adalah 88 juta. Bulan berikutnya kontraktor akan meminta kembali uang belanja bulanan baru dan digabungkan dengan sisa yang 12 juta tadi dst dst.

Pada sistem ini semua belanja proyek dan upah pekerja dilaporkan secara transparan kepada klien, biasanya dalam bentuk laporan rutin. Berapa sebenarnya nilai belanja, upah dan segala pengeluaran proyek semuanya diperlihatkan dan dipaparkan secara terbuka sehingga klien bisa melakukan kontrol yang baik. Berbeda dengan sistem borong yang data-data ini tertutup, berapa besar untung rugi pemborong dirahasiakan.


Biaya Mutu Waktu (BMW), Kelebihan / Kekurangannya



Borong

Kelebihan pada sistem ini biasanya ada pada B & W. Biaya tetap dipatok sesuai kontrak awal, mau untung atau tekor itu tanggungan kontraktor. Juga waktu, biasanya sistem borong cenderung lebih cepat demi menghindari kenaikan harga sebelum proyek selesai atau juga secara ekonomis bila cepat selesai maka keuntungan yang didapat bisa lebih baik.

Kekurangannya ada pada M - mutu, karena harus dikerjakan dengan cepat maka biasanya hasil pekerjaannya tidak sebaik yang menggunakan sistem cost and fee.


Cost and fee

Kelebihan sistem ini utamanya ada pada M - mutu. Sistem ini jelas cocok digunakan untuk proyek yang memang menginginkan mutu dan kualitas yang baik. Hanya saja perlu dipersiapkan dana yang longgar.

Karena kontraktor dibayar berdasarkan prosentase maka biasanya pekerjaannya menjadi lebih tenang dan tidak terburu-buru karena hampir tidak ada resiko kuatir tekor, harga naik ya prosentase ikut naik dan sebaliknya turun ya ikut turun. Bahkan klien pun bebas mengganti material/spec ditengah pelaksanaan nanti, belanja sendiri pun silakan. Sungguh tidak masalah.

Kekurangannya ada pada B & W - biaya dan waktu. Pada sistem ini biaya & waktu kerja proyek sifatnya 'hidup' tidak terkunci seperti borongan. Karena klien bebas mengganti material/spec maka harga bisa bergerak fleksibel naik atau turun mengikuti selera klien.

Rata-rata kalau klien ganti spec, biasanya jadi naik spec, jarang sekali yang turun. Imbasnya perlu ada penambahan waktu dan biaya untuk mengerjakan pekerjaan tambahan tersebut, sehingga tidak secepat sistem borongan.


Akhir Tulisan

Kedua sistem pembayaran kontraktor diatas adalah yang paling lazim ditemui dalam pasar bangunan rumah tinggal, keduanya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kami hanya berharap kiranya tulisan ini bisa memberikan pencerahan yang cukup kepada anda, utamanya bagi yang masih membutuhkan informasi praktis akan tata cara pembayaran kontraktor dalam dunia konstruksi bangunan.

Kunjungi juga website resmi CGA untuk mengenal lebih jauh tentang kami.



9 comments:

  1. Salam pak?. Sy mau tanya ini pak. Bila suatu pekerjaan pengadaan barang di suatu satuan kerja perangkat daerah sdh melewati tahun berjalan apakah pembayarannya akan di tunda ke tahun berikutnya? Mohon penjelasannya pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Pak Ary, ini untuk proyek pemerintah/semacamnya ya pak?
      Lingkup kami di pasar bangunan custom house/building dan biasanya direct ke owner langsung.

      Kalau pengadaan barang/proyek pemerintah, kami tidak paham. Saran saya lebih baik pak ary coba cari info ke pihak yang memang bermain di pasar tersebut.

      Delete
  2. Salam pak, buat nambah ilmu saja saya disini sebagai mahasiswa baru pengen tanya buat jenjang karir pekerjaan alangkah baiknya saya masuk di konsultan dulu atau kontraktor ya?? Agar perjalanan karir saya tepat,

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Kl mengenai jenjang karir, sebenarnya definisinya luas sekali ya.

      Kalau kontraktor kan lebih banyak di fisik bangunan, sedangkan konsultan lebih banyak di perencanaan. Tapi kontraktor besar pun biasanya punya divisi konsultan sendiri, demikian juga sebaliknya.

      Tinggal mana yg cocok bagi kita.

      Terima kasih sudah berkunjung :)

      Delete
  3. Saya ada kerjaan di salah satu industri dan kontrak di situ pembayaran di bayar sesudah beres kerjaan dan di bayar satu minggu sesudah beres kerjaan,tanpa ada dp dan sistem termen apakah itu biasa di dunia industri,makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Kalau dibilang biasa, ya pasti ada saja. Kami pun pernah bertemu pemberi tugas yg mensyaratkan termin spt itu, dan kasusnya sama, mereka non pribadi (developer / perusahan dll)

      Kalau kami tidak begitu berminat di sistem tsb, yg sudah2 kami tidak ambil.

      Tetapi semuanya kembali kepada diri kita masing2, kalau merasa yakin ya silakan, bila tidak jangan.

      Sama2, terima kasih sudah berkunjung.

      Delete
  4. tambah ilmu tambah teman, semoga tambah sukses . Terima kasih

    ReplyDelete

Tulisan anda akan di moderasi oleh admin.

Renovasi Rumah Tinggal, Karasak Utara, Bandung

Dokumentasi April 2018 Renovasi rumah tinggal di Karasak Utara, Bandung Item pekerjaannya berupa renovasi rumah tinggal, sebelumnya suda...